
Gara-gara seorang teman memposting tulisan tentang berpikiran terbuka, saya jadi teringat sebuah kisah yang diceritakan oleh Zulkieflimansyah dalam akun twitternya beberapa bulan lalu. Bang Zul bercerita tentang apa yang dinamakan mental model.
Mental model adalah cara kita memandang sekeliling kita, lingkungan sekitar dll. Disebut juga sebagai cara memandang dunia – the way we see the world. Mental model ini kadang juga disebut paradigm, insight, atau viewpoints. Mental model secara umum dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, pekerjaan, teman bergaul dan tingkat kemakmuran. Mental model yang berbeda inilah yg membuat perdebatan kadang jadi hangat dan emosional. Merubah mental model bukan persoalan sederhana. Butuh perubahan pendidikan, pengalaman, teman berinteraksi, pergaulan, dan kemakmuran. Cerita tentang seorang kepala suku di dalam buku “The Living Company” karya Arie de Geus ini mungkin baik untuk disimak.
Arie de Geus bercerita tentang pengalaman orang-orang Inggris ketika mendarat di Malaysia pada abad ke 18. Orang-orang Inggris ini mendarat di sebuah lembah dan terkejut sekali akan keterbelakangan masyarakat di situ. Saking terbelakangnya masyarakat di lembah itu, dalam keseharian mereka belum mengenal roda. Tapi orang-orang Inggris ini cukup senang dan optimis karena mereka berkenalan dan bertemu dengan kepala suku yg cukup pintar. “Aha! kepala suku ini bisa dimanfaatkan sebagai agent of changes..” Begitu pikir mereka, “Dia bisa dimanfaatkan utk mempercepat perubahan..!”
Kepala suku ini harus diperkenalkan dengan hal-hal baru, dengan signal of changes, yg memungkinkan dia dapat belajar dan berubah. Jalan pintasnya, si kepala suku dibawa ke Singapura. Selain karena dekat juga karena secara sosial, ekonomi nya relatif lebih maju. Selama 24 jam, si kepala suku yg pintar ini diajak berkeliling melihat berbagai tempat yang memungkinkan dia melihat signal of changes. Diajak lihat pelabuhan, pabrik-pabrik, industri-industri, pasar dll. Pokoknya segala tempat yg memungkinkan dia belajar dan berubah.
Setelah lelah berkeliling, kepala suku yg pintar ini ditanya oleh orang-orang inggris,”what do you think about Singapore?” Si kepala suku mengatakan Singapura ternyata hebat dan jauh lebih maju dibandingkan tempatnya di Malaysia. “Kenapa hebat?” tanya orang-orang Inggris.”Karena orang-orang Singapura mampu mengangkat PISANG lebih banyak dibandingkan kami di Malaysia” katanya.
Orang-orang Inggris-nya bengong. Kepala suku yg pintar ini sudah di ajak ke mana-mana. Ke galangan kapal, pabrik kimia, industri dll. Tetapi rupanya tempat-tempat itu tak menghadirkan apa-apa buatnya karena secara emosi dan psikologis dia tidak terbiasa dengan itu semua. Di dalam rekaman otaknya, tempat dan tanda-tanda adalah hal yang tidak biasa. Jadi nggak nyambung. Makanya ketika melewati pasar, dan melihat ada orang Singapura bisa ngangkat pisang lebih banyak pakai gerobak dia baru ngeh dan nyambung! Simply, karena di rekam otak dan pengalamannya dia terbiasa dan mengenal pisang ini. Makanya ketika ditanya kenapa orang singapura hebat, ya karena mereka mampu mengangkat pisang lebih banyak dibanding di desanya.
Pelajarannya sederhana, percuma kita debat tentang minoritas, liberal, konservatif dll tanpa ada kerendahan hati untuk belajar dan rendah hati. Karena pendidikan, pengalaman, teman berinteraksi dll menyebabkan kita membawa “PISANG” di benak kita masing-masing. Indonesia di masa depan membutuhkan kerendahan hati untuk belajar, mendengar dan berubah. Membangun bridge of understanding dengan kesabaran. Yang pintar menghargai dan sabar menghadapi yg bodoh. Yang gaul sabar menghadapi yang belum gaul. Yang merasa beriman bersabar, dll..
Berpikiran terbuka bukan berarti menerima semua pemikiran yang datang. Berpikiran terbuka juga bukan berarti anti kemapanan. Berpikiran terbuka adalah tentang kerendahan hati untuk belajar dan kesabaran dalam perbedaan pandangan.
