.

.
.

Prof. Dr. Hj. Ratu Atut Chosiyah, SE, MBA, MSi, MSc Kesayangan Presiden Megawati

Prof. Dr. Hj. Ratu Atut Chosiyah, SE, MBA, MSi, MSc Kesayangan Presiden Megawati
Prof. Dr. Hj. Ratu Atut Chosiyah, SE, MBA, MSi, MSc Kesayangan Presiden Megawati

Minggu, 16 Januari 2011

Mental Model dan Berpikiran Terbuka



06/01/2011

Gara-gara seorang teman memposting tulisan tentang berpikiran terbuka, saya jadi teringat sebuah kisah yang diceritakan oleh Zulkieflimansyah dalam akun twitternya beberapa bulan lalu. Bang Zul bercerita tentang apa yang dinamakan mental model.

Mental model adalah cara kita memandang sekeliling kita, lingkungan sekitar dll. Disebut juga sebagai cara memandang dunia – the way we see the world. Mental model ini kadang juga disebut paradigm, insight, atau viewpoints. Mental model secara umum dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, pekerjaan, teman bergaul dan tingkat kemakmuran. Mental model yang berbeda inilah yg membuat perdebatan kadang jadi hangat dan emosional. Merubah mental model bukan persoalan sederhana. Butuh perubahan pendidikan, pengalaman, teman berinteraksi, pergaulan, dan kemakmuran. Cerita tentang seorang kepala suku di dalam buku “The Living Company” karya Arie de Geus ini mungkin baik untuk disimak.

Arie de Geus bercerita tentang pengalaman orang-orang Inggris ketika mendarat di Malaysia pada abad ke 18. Orang-orang Inggris ini mendarat di sebuah lembah dan terkejut sekali akan keterbelakangan masyarakat di situ. Saking terbelakangnya masyarakat di lembah itu, dalam keseharian mereka belum mengenal roda. Tapi orang-orang Inggris ini cukup senang dan optimis karena mereka berkenalan dan bertemu dengan kepala suku yg cukup pintar. “Aha! kepala suku ini bisa dimanfaatkan sebagai agent of changes..” Begitu pikir mereka, “Dia bisa dimanfaatkan utk mempercepat perubahan..!”

Kepala suku ini harus diperkenalkan dengan hal-hal baru, dengan signal of changes, yg memungkinkan dia dapat belajar dan berubah. Jalan pintasnya, si kepala suku dibawa ke Singapura. Selain karena dekat juga karena secara sosial, ekonomi nya relatif lebih maju. Selama 24 jam, si kepala suku yg pintar ini diajak berkeliling melihat berbagai tempat yang memungkinkan dia melihat signal of changes. Diajak lihat pelabuhan, pabrik-pabrik, industri-industri, pasar dll. Pokoknya segala tempat yg memungkinkan dia belajar dan berubah.

Setelah lelah berkeliling, kepala suku yg pintar ini ditanya oleh orang-orang inggris,”what do you think about Singapore?” Si kepala suku mengatakan Singapura ternyata hebat dan jauh lebih maju dibandingkan tempatnya di Malaysia. “Kenapa hebat?” tanya orang-orang Inggris.”Karena orang-orang Singapura mampu mengangkat PISANG lebih banyak dibandingkan kami di Malaysia” katanya.

Orang-orang Inggris-nya bengong. Kepala suku yg pintar ini sudah di ajak ke mana-mana. Ke galangan kapal, pabrik kimia, industri dll. Tetapi rupanya tempat-tempat itu tak menghadirkan apa-apa buatnya karena secara emosi dan psikologis dia tidak terbiasa dengan itu semua. Di dalam rekaman otaknya, tempat dan tanda-tanda adalah hal yang tidak biasa. Jadi nggak nyambung. Makanya ketika melewati pasar, dan melihat ada orang Singapura bisa ngangkat pisang lebih banyak pakai gerobak dia baru ngeh dan nyambung! Simply, karena di rekam otak dan pengalamannya dia terbiasa dan mengenal pisang ini. Makanya ketika ditanya kenapa orang singapura hebat, ya karena mereka mampu mengangkat pisang lebih banyak dibanding di desanya.

Pelajarannya sederhana, percuma kita debat tentang minoritas, liberal, konservatif dll tanpa ada kerendahan hati untuk belajar dan rendah hati. Karena pendidikan, pengalaman, teman berinteraksi dll menyebabkan kita membawa “PISANG” di benak kita masing-masing. Indonesia di masa depan membutuhkan kerendahan hati untuk belajar, mendengar dan berubah. Membangun bridge of understanding dengan kesabaran. Yang pintar menghargai dan sabar menghadapi yg bodoh. Yang gaul sabar menghadapi yang belum gaul. Yang merasa beriman bersabar, dll.. :)

Berpikiran terbuka bukan berarti menerima semua pemikiran yang datang. Berpikiran terbuka juga bukan berarti anti kemapanan. Berpikiran terbuka adalah tentang kerendahan hati untuk belajar dan kesabaran dalam perbedaan pandangan.

Mendukung Kebijakan BI

Inilah 23 Kebijakan BI Perkuat Moneter 2011
Headline
Gubernur BI, Darmin Nasution - inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Irfan Fikri
Ekonomi - Rabu, 29 Desember 2010 | 19:05 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Bank Indonesia akan mengarahkan kebijakan suku bunga BI Rate konsisten terhadap pencapaian sasaran inflasi yang telah ditetapkan, yaitu 5%1% dan 4,5%1% pada tahun 2011 dan 2012, dengan mewaspadai risiko tekanan inflasi yang akan meningkat ke depan.

Hal ini disampaikan Gubernur BI, Darmin Nasution dalam acara jumpa pers refleksi akhir tahun 2010, Rabu (29/12). Kebijakan tersebut akan diperkuat dengan beberapa kebijakan yang merupakan kelanjutan dan penguatan dari bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh sepanjang tahun 2010, dan sekaligus sebagai normalisasi atas beberapa kebijakan pada saat krisis 2008.

Adapun kebijakan tersebut mencakup: 1) Penerapan kembali batasan posisi Saldo Harian Pinjaman Luar Negeri (PLN) Bank Jangka Pendek. 2) Pencabutan Ketentuan Penyediaan Pasokan Valuta Asing bagi Perusahaan Domestik.

Kemudian kebijakan mendorong peran intermediasi perbankan. Kebijakan ini ditujukan untuk mendorong intermediasi perbankan secara lebih efisien dan transparan, sekaligus membuka akses masyarakat kecil terhadap jasa keuangan (financial inclusion). Kebijakan ini mencakup : 3) Penerapan standar operasi administrasi sekuritisasi kredit pemilikan rumah 4) Pemberlakuan kewajiban mengumumkan suku bunga dasar kredit secara luas ke masyarakat. 5) Perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) bagi Bank Umum yang lebih rendah untuk Kredit Ritel, usaha Mikro dan usaha Kecil. 6) Perizinan, Pengaturan dan Pengawasan Biro Kredit Swasta.

Selain kebijakan di atas, Bank Indonesia juga meluncurkan beberapa program inisiatif dalam rangka mendorong intermediasi perbankan sebagai berikut : 1) Program Bank Pembangunan Daerah sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah (BPD Regional Champion). 2) Program Perluasan Akses Kepada Lembaga Keuangan (Financial Inclusion).

Sedang kebijakan meningkatkan ketahanan perbankan bertujuan untuk menjaga agar bank tetap kuat dan sehat menghadapi persaingan melalui pengelolaan yang transparan dan mengacu pada good governance. Kebijakan ini mencakup : 1) Penyempurnaan ketentuan Uji Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) 2) Peningkatan Fungsi Kepatuhan Bank Umum. 3) Perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) Bank Umum untuk Risiko Kredit dengan menggunakan Pendekatan Standar. 4) Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Aktivitas Kerjasama Pemasaran dengan Perusahaan Asuransi (Bancassurance). 5) Pengaturan Penilaian Kualitas Aktiva Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah serta Kualitas Aktiva Bagi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. 6) Penyempurnaan Pengaturan Restrukturisasi Pembiayaan pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. 7) Penyempurnaan Batas Maksimum Pembiayaan Dana (BMPD) BPR Syariah 8) Perubahan Ijin Usaha Bank Umum menjadi Ijin Usaha Bank Perkreditan Rakyat (BPR). 9) Upaya mendorong terwujudnya BPR yang berdaya saing tinggi dan menerapkan good corporate governance.

Untuk penguatan kebijakan makroprudensial ditujukan untuk lebih memperkuat stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan melalui pelaksanaan macroprudential surveillance oleh Bank Indonesia. Kebijakan ini mencakup : 1) Penyempurnaan Ketentuan dan Penggunaan Informasi Rencana Bisnis Bank 2) Menaikkan Rasio GWM Valas. 3) Mengembalikan Peraturan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) kepada kondisi normal.

Sedang untuk penguatan fungsi pengawasan selalu menjadi prioritas Bank Indonesia. Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan pengawasan bank khususnya kualitas early warning system dan keterkaitannya dengan peran macroprudential supervision. Kebijakan ini mencakup : 1) Penyempurnaan Sistem Pengawasan Bank berdasarkan risiko. 2) Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank (Exit Policy). 3) Penyempurnaan penilaian Tingkat Kesehatan Bank berdasarkan risiko.
[cms]

Membaca Ratu Atut dan Ismet Iskandar: Indra J Piliang (MKGR/Golkar)


Benar! Bulan depan ini golkar habis-habisan dukung airin rachmi diany

Wisata Lembang Golkar 2011 Mendukung Prof. Dr. Hj. Airin Rachmi Diany, SH, MH, MBA, MSc

Sumber: http://untukmu.wisatalembang.com

Pengikut